Call Us : 021-8096411 WA 08111735558
Motto : SMART & PRUDENT
Sambut Revolusi Industri 4.0, UMHT Fokus Membangun Kultur Enterpreneurship

indopos.co.id Perubahan zaman yang berlangsung demikian cepat memerlukan respon yang cepat dan tepat dari generasi muda. Revolusi Industri 4.0 salah satunya, yang harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas dalam teknologi. Hanya mereka yang mampu menguasai teknologi informasi, internet, digital dan berbagai turunannya lah yang akan keluar sebagai pemenang.

Revolusi Industri 4.0 juga menuntut jiwa kreatif dan inovatif dari angkatan kerja produktif. Pada akhirnya inovasi menghasilkan spirit enterpreneurship, khususnya di kalangan anak muda. Melihat tren di sejumlah negara maju, tak kurang paling tidak harus ada 14 persen enterpreneur dari rasio penduduk. Indonesia sendiri saat ini baru memiliki 3,1 persen wirausahawan, sementara negara tetangga seperti Singapura sudah di atas 10 persen.

Melihat tantangan ini, Universitas MH Thamrin (UMHT) Jakarta berkomitmen memberikan pengetahuan dan pemahaman sejak dini kepada mahasiswa agar siap memasuki Revolusi Industri 4.0, seraya menebalkan jiwa wirausaha.

Ketua Panitia Pengenalan Program Studi Mahasiswa (PPSM) UMHT, Dedi Setiadi ST mengatakan, kegiatan PPMS yang sebelumnya lebih dikenal dengan istilah Ospek itu tidak lagi mengedepankan tantangan fisik, apalagi yang menjurus kekerasan.

Sudah bukan masanya lagi orientasi diisi dengan hal semacam itu. Justru yang lebih penting adalah memberikan bekal kepada mahasiswa agar memahami tantangan yang ada di masa depan, ujarnya, di sela pelaksanaan PMKS, Sabtu (31/8/2019)

Dalam penyiapan semangat enterpreneurship di era digital, UMHT mengundang Nurfajri Budi Nugroho, pelaku usaha bidang IT, sekaligus anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HipmiI). Di depan lebih dari 600 mahasiswa baru, Fajri menekankan pentingnya menumbuhkan budaya pantang menyerah dalam belajar, khususnya belajar tentang seluk-beluk new media.

Tidak ada yang tidak mungkin selama kalian punya tekad dan tujuan. Saya juga mengalami apa yang Anda rasakan, berangkat dari keterbatasan, terus berusaha, sampai akhirnya segala sesuatunya kelihatan hasilnya, kata CEO Diginusantara itu.

Fajri menambahkan, jiwa enterpreneurship harus ditanamkan sejak dini. Mengikuti pendidikan secara formal dengan kuliah bukan berarti tidak bisa menjadi enterpreneur. Semangat wirausaha bukan tentang jualan semata, melainkan menumbuhkah kultur berfikir inovatif dan terus mencari peluang baru, tambahnya.

Misalnya, seorang perawat, bidan, ahli gizi, ahli laboratorium kesehatan, bisa berinovasi dengan membuat aplikasi pemantauan pasien, konsultasi pasien, menyederhanakan alur kerja, dan sebagainya. Begitu pula profesi yang lain seperti akuntan, manajer dan lain-lain. Setiap profesi tidak berhenti hanya pada apa yang dia kerjakan. Itulah semangat inovatif seorang enterpreneur.

Kultur wirausaha juga merupakan kunci memenangkan persaingan di era 4.0. Seperti ulasan Fajri, dunia sudah berubah dan cara kerja manusia juga berubah. Dengan adanya teknologi informasi, maka banyak jenis pekerjaan yang akan hilang, digantikan aplikasi atau robotic. Diprediksi pada tahun 2030 terdapat sekitar 20 juta pekerjaan manusia akan digantikan robot.

Di pintu tol sudah cashless, kasir bank juga akan hilang. Dokter dan perawat kini bisa dengan mudah diakses melalui aplikasi. Semua berubah. Hanya profesi yang menguasai teknologi lah yang akan bertahan dan menang, pungkasnya. (mdo)

sumber :https://indopos.co.id/read/2019/08/31/191100/sambut-revolusi-industri-4-0-umht-fokus-membangun-kultur-enterpreneurship/